JKM.COM, KALSEL – Pada saat pembukaan Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Volume IV di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpina Pertanian (PPMKP) Ciawi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyatakan bahwa wirausaha pertanian memegang peranan yang sangat penting dalam menjamin keberlangsungan pembangunan pertanian.
Dikatakan oleh Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) dimana untuk penumbuhan wirausaha di Indonesia masih perlu terus didorong, terlebih bila dikaitkan dengan rasio kewirausahaan Indonesia yang pada tahun 2022 baru mencapai 3,47 % bila dibandingkan dengan rasio kewirausahaan di negara-negara maju yang sudah mencapai tingkat 12 % dari populasi penduduk.
“Kami mengajak kepada seluruh petani Indonesia, poktan, gapoktan, KWT, P4S, petani milenial, dan petani andalan agar semua berbisnis pertanian alias kita harus bangun sektor agribisnis. Jadi, wirausaha pertanian itu yang sesungguhnya akan menjamin kebersinambungan dan keberlangsungan dari pertanian kita,”jelas Dedi.
Lebih jauh Dedi menjelaskan bahwa pada saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) sedang melakukan tranformasi dari pertanian yang hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, keluarga, dan tetangga, menjadi tempat untuk menghasilkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya.
“Pertanian itu sesungguhnya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tidaknya hanya untuk memenuhui kebutuhan keluarga, tetapi pertanian itu sudah seharusnya kita jadikan tempat untuk mencari duit sebanyak-banyaknya,sehingga kesejahteraan kita sebagai petani akan semakin baik dan meningkat,” tegas Dedi.
Selanjutnya kata Dedi, Kementan saat ini juga sedang melakukan transformasi dari pertanian konvensional ke pertanian modern. Dimana hal tersebut dicirikan dengan penggunaan Alsintan, yang menjadi ciri khas pertanian modern, maka dengan demikian proses pertanian bisa dilakukan dengan lebih cepat, lebih efisien, dan serta mampu meningkatkan produksi.
“Di saat jumlah penduduk Indonesia kurang dari 100 juta jiwa, cara bertani dengan cara konvensional masih aman kita lakukan, tetapi kalau sekarang dengan jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 273 juta jiwa lebih . Kalau kita masih menggunakan cara-cara bertani yang konvensional, maka produksi pertanian kita tidak mungkin mencukupi pangan 273 juta jiwa tersebut,” papar Dedi.
Ada tiga jurus jitu untuk membangun wirausaha pertanian. Pertama, smart farming, yakni pertanian yang dilakukan dengan cara-cara cerdas dan dilakukan oleh orang-orang cerdas.
“Oleh karena itu, saya yakin bahwa dengan smart farming produktivitas bisa kita genjot, kualitas bisa kita perbaiki, dan kontinuitas produk bisa kita jamin,” kata Dedi.
Lebih detailnya kata Dedi bahwa pertanian bisa dikatakan sebagai smart farming yaitu sudah adanya ada pemanfaatan produk biosains, bioteknologi, biofertilizer, biopestisida. Sebagai contoh pemanfaatan high yiedling variety (varietas yang berpotensi hasil tinggi).
“Ingat, bahwa di dalam pertanian itu dimulai dari benih dan dari varietas yang berpotensi hasil tinggi. Kalau bibit dan benihnya asal-asalan tidak bagus dan tidak diketahui dengan jelas asal dan sumbernya apalagi hoaks, maka pasti hasilnya asal-asalan dan juga hoaks. Kalau kalian mau bertani, maka pastikan dulu benihnya berkualitas dan berpotensi produktivitas tinggi,” kata Dedi.
Selain itu pula di dalam smart farming juga ada pemanfaatan alsintan. Di samping itu, ada pemanfaatn Internet of Things, Big data, Artificial intelligence (AI), Robot construction, dan Sensor.
“Di saat sekarang ini kita sekarang sudah memasuki suatu era yang dinamakan dengan era 4.0, dimana segala sesuatunya berlangsung secara otomatis, segalanya sesuatunya menggunakan internet dari hulu hingga hilir. Dari hulu memilih benih dan bibit yang berkualitas cukup menggunakan robot. Berbicara mengenai ukuran benih, robot bisa menyeleksi benih yang bagus,” kata Dedi.
“Bahkan sekarang irigasi juga bisa dihubungkan dengan Iot. Putra-putri Indonesia sekarang bahkan sudah mampu membuat Smart Irrigation System untuk usaha tani cabai dan sayur-sayuran lainya,” sambung Dedi lebih jauh.
Kedua, dengan jalan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disediakan oleh pemerintan, dimana KUR ini didedikasikan pemerintah kepada seluruh pelalu Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), termasuk petani dengan bunga yang cukup rendah dan terjangkau yaitu hanya 6 persen.
“Saya bisa katakana bahwa KUR itu ibaratnya adalah bensin. Percuma kita punya traktor, motor, mobil, dan kendaraan lainnya kalau bensinnya tidak ada maka tidak akan jalan. Jadi, seperti itu pula pertanian bahwa KUR itu adalah bensin yang akan menggerakkan wirausaha pertanian kita,” kata Dedi.
Di kesempatan terpisah, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang Yulia Asni Kurniawati mengatakan, dengan jalan membangun kolaborasi dengan seluruh offtaker, bayer, eksportir, foundation yang menyediakan dana, dan perbankan. Dengan membangun jaringan relasi dan hubungan kita akan semakin luas dan meningkat sehingga rezeki dan penghasilan kita juga akan meningkat”, katanya.
“Bahwa pada prisipnya, kita harus membangun kolaborasi bukan kompetisi, kita harus bersanding, bukan bertanding, kita harus merangkul bukan saling baku pukul dan baku hantam sesama pelaku pertanian, kita juga harus memeluk bukan baku gebuk. Itu yang harus kita lakukan,” imbuhnya pada Kamis, (24/11).
Penulis: Susmawati, SP, MP.
Editor: M. Irfan Karuniawan, S.Kom













