Merakit Mikrokontroler, Peserta Sangat Antusias Ikuti Praktek

banner 120x600

BINUANG – KALSEL, JKM | Perkembangan industri di Indonesia memasuki tahap baru, semua industri berlomba-lomba menggunakan teknologi yang menjadi ciri khas dari revolusi industri tersebut. Untuk lebih mudah memahami Revolusi Pertanian 4.0 ini, kunci utamanya yaitu berbasis jaringan internet.

Revolusi 4.0 pada bidang pertanian menerapkan metode “Smart Farming Precision Agriculture” yang secara garis besar metode ini terbagi menjadi 2 garis besar yaitu smart farming dan precision agriculture

” Saat ini revolusi pertanian dengan mengedepankan Internet of things bagi petani Milenial sangat diperlukan untuk efektivitas dan efisiensi dalam berusaha tani” ujar Retno Hermawan Widyaiswara BBPP Binuang.

“Jaringan internet ini akan terintegrasi atau terhubung dengan mesin atau perangkat, karena menggunakan jaringan internet sebagai penghubung maka secara otomatis untuk mengoperasikan mesin atau perangkat tersebut dapat dilakukan secara jarak jauh”

“Pada hari ini kami melakukan praktek membuat 3 projek yg di lakukan oleh peserta yakni membuat IoT penyiraman tanaman otomatis, IoT pengusir burung di lahan sawah, dan IoT penyiraman tanaman dipadukan dengan sensor api dan gas jika terjadi kebakaran akn menyalakan notifikasi” papar Retno pada Jum’at (01/04/2022)

“Terlihat peserta sangat antusias dalam melakukan praktek in class ini, petani Milenial ini di ajarkan membuat skecth ddi arduino Uno, rangakaian listrik, dan desain rangkaian komponen mikrokontroler” ujarnya

“kami berharap peserta menerapkan apa yang telah di pelajari dan diterapkan dilapangan” pungkas Retno

Kegiatan Pelatihan dilaksanakan di BBPP Binuang, pada tanggal 30 Maret Hingga 05 April 2022.

Peserta Pelatihan berjumlah 30 orang peserta yang berasal dari Kabupaten Sambas serta Kabupaten Sanggau Provinsi Kalimantan Barat.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, memberikan motivasi kepada petani milenial bahwa, “penerapan smart farming di era Revolusi Industri 4.0 adalah suatu keharusan dan sangat penting untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian,” jelasnya.

Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi sesaat setelah membuka pelatihan mengatakan, “Pertanian Smart Farming merupakan Pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi. Smart Farming merupakan Produk Bio Science & Bio Technology,” ungkapnya.

“Saya berharap, peserta harus betul betus serius dan bekerja keras di bidang Pertanian,” harap Kepala Badan.

Hal senada disampaikan Kepala Pusat Pelatihan Kementerian Pertanian, Lely Nuryati saat pembukaan pelatihan ini. Beliau mengatakan, “Kita tidak cukup mengikuti pelatihan di kelas,melainkan harus terjun langsung praktek di lapangan,” Paparnya.

“Readsi sebagai salah satu program yang dimotori oleh IFAD, terpilih menjadi program terbaik,” lanjut lely.

“Pertanian yang modern harus diterapkan dari hulu hingga hilir. Oleh karena itu kita perlukan peran Petani Milenial untuk mewujudkan Pertanian modern,” Tambah Kapuslatan.

Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati saat membacakan Laporan Penyelenggaraan Pelatihan mengatakan, “Pelatihan Smart Farming bagi Petani Milenial penting sebagai salah satu upaya mencetak pelaku utama dan pelaku usaha yang unggul, adaptif, menguasai, serta menerapkan teknologi dalam usahatani,” paparnya. 

(Retno/Irfan)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan