Widyaiswara BBPP Binuang Terapkan Hasil TOT Gerakan Tani Pro Organik

banner 120x600

JKM.COM, KALSEL – Salah Satu permasalahan yang dihadapi oleh para petani dalam mengelola usahataninya adalah pupuk yang diperlukan oleh tanaman yang dibudidayakannya. Dirasakan dan dinyatakan masalah oleh petani dikarenakan pupuk yang dibutuhkan sulit didapat di pasaran dan harganya relatif mahal sementara para petani sudah menyadari pentingnya pupuk bagi tanamannya.

Untuk mengatasi permasalahannya tidak sedikit para petani berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya para petani memanfaatkan berbagai bahan-bahan berupa kotoran hewan, sisa-sisa atau bagian-bagian tanaman, sisa-sisa dapur alhasil memberikan positif bagi usahataninya.

Kabar yang menggembirakan khususnya bagi pelaku-pelaku utama dibidang pertanian, karena pada Kamis sampai Sabtu 10 Desember 2022 yang lalu, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian menyelenggarakan Training Of Trainers (TOT) Bagi Widyaiswara, Dosen, Guru dan Penyuluh Pertanian “Gerakan Tani Pro Organik” (Genta Organik) yang diselenggarakan secara online.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengajak para petani di seluruh Indonesia untuk meningkatkan penggunaan pupuk sendiri alias pupuk organik.  Menurutnya, pupuk organik sangat dibutuhkan oleh para petani. Sebab, jumlah ketersediaan pupuk subsidi yang ada saat ini sangat terbatas. 

“Belum lagi bahan baku pupuk seperti gugus fosfat yang sebagian besar dikirim dari Ukraina dan Rusia tersendat karena perang keduanya. Jadi yang tidak dapat pupuk subsidi segeralah menghadirkan pupuk organik,” ujar SYL.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, Kementan telah meluncurkan Genta organik, yang meliputi pemanfaatan pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah sebagai solusi terhadap masalah pupuk mahal.  Gerakan ini mendorong petani untuk memproduksi pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah secara mandiri.

“Genta organik tidak berarti mengharamkan penggunaan pupuk anorganik (kimia), melainkan boleh menggunakan pupuk kimia dengan ketentuan tidak berlebihan atau mengikuti konsep pemupukan berimbang,” ujar Dedi. 

Dikatakan Dedi, petani bisa membuat sendiri pupuk organik, pupuk hanyati, dan pembenah tanah. “Petani juga bisa membuat pupuk organisme lokal. Apa yang disebut mikro organisme lokal yang di dalamnya ada mikroba yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman,” kata Dedi.

Merespon Genta organik, Yulia Asni Kurniawati meminta tim BBPP Binuang untuk mendukung gerakan tersebut diantaranya membuat produk-produk organic, baik pupuk organic, agensia hayati, Biocar, PGPR, dan bersosialisasi kepada masyarakat pertanian.

Menurut Yusuf Rijayanto salah seorang Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang Kalimantan Selatan yang juga sebagai peserta TOT tersebut, bahwa kegiatan TOT ini bukan hanya ilmu tentang pertanian organik semata akan tetapi lebih wujud nyata keseriusan pemerintah mengenai program pertanian organik sertlangsung  hal ini menjadikan keyakinan para petani untuk menggunakan bahan-bahan organik sebagai pupuk dan obata-obatan dalam pengelolaan usahataninya.

“Yang juga ditunggu oleh para petani yaitu mengenai pembuatan pupuk organik yang pastinya selain salah satu pintu masuk untuk menghasilkan produk pertanian organik juga permasalahan petani tentang pupuk yang sangat membebani para petani,” ungkapnya pada Senin, (26/12).

Selaku Widyaiswara dan juga memiliki hobi dan sekaligus memiliki usaha dibidang budidaya pertanian, Yusuf sangat menyambut baik dengan kegiatan TOT tersebut hal ini diwujudkan dengan pasca TOT Yusuf mengumpulkan bahan-bahan untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik. Bahan-bahan yang digunakannya yaitu air kelapa, air beras, daun gamal, lidah buaya, limbah bawang merah dan bawang putih yang diperolehnya dari home industry sambal goreng, limbah kunyit yang diperoleh dari home industry jamu gendong dan masih ada beberapa bahan lain yang ada disekitar rumah atau dari dapur dan ditambah activator sekaligus dekomposer.

Sellanjutnya semua bahan dimasukan kedalam satu drum dan diaduk minimal satu kali dalam satu hari. Hasilnya sudah langsung diterapkan di pembibitan Lombok dan tanaman hiasnya, alhasil tanaman yang diberi cairan pupuk organik tersebut terlihat pertumbuhannya yang jauh lebih baik dari pupuk anorganik tuturnya.    

Menurut Yusuf yang beberapa tahun yang lalu telah menggunakan pupuk dan pestisida organik dirasakan sangat positf, memberikan beberapa manfaat penggunaan organik yaitu pembuatannya mudah,bahan-bahan tersedia dengan mudah, biaya relative murah dan hasilnya sangat baik seperti yang pernah dilakukannya dalam budidaya lombok/cabe merah, semangka serta kebun jeruknya misalnya produksi lebih tinggi, rasa manis,  ketahanan cabe, semangka dan jeruknya selama di pohon terhadap hama dan penyakit serta daya simpan setelah di panen relative lebih lama.
Dari hasil tersebut menjadikan Yusuf merencanakan untuk mengumpulkan petani-petani disekitar kebunnya untuk sama-sama menerapkan pembuatan pupuk dan pestisida organik.

Untuk itu Yusuf berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan kepada petani untuk memproduksi pupuk dan pestida organik serta pemasaran hasil pertanian organiknya, Kemudahan tersebut misalnya adanya bantuan-bantuan mengenai peralatan pembuatan pupuk dan pestisida organik serta adanya kebijakan agar masyarakat misalnya para ASN, Karyawan perusahaan, hotel atau lainnya untuk mewajibkan membeli dan mengkonsumsi hasil pertanian organik. Selain itu juga pemasyarakatan tentang produk-produk pertanian organik agar dapat digalakan lebih deras lagi,

Yusuf berharap semoga melalui kegiatan TOT Gerakan Tani Pro Oragnik merupakan salah satu cara untuk serema mewujudkan pertanian organik yang sudah cukup lama digaungkan.

Penulis: Yusuf Rijayanto, MA
Editor: M. Irfan Karuniawan, S.Kom


banner 336x280

Tinggalkan Balasan