JKM.COM, KALTIM – Secara umum kondisi petani kita memiliki skala usaha pertaniannya yang relative kecil sehingga berpengaruh atau menghambat mereka untuk meningkatkan pendapatannya.
Selain luas usahataninya yang sempit, juga disebabkan oleh produktivitas yang rendah, infrastruktur terbatas, aksesibilitas rendah terhadap modal, teknologi, informasi, dan pasar, serta rendahnya kapasitas petani hal ini lah diantaranya yang menjadikan para petani kita hingga saat ini belum dapat meraih yang semestinya mereka dapatkan.
Untuk itu sejak lama pemerintah mendorong para petani menjadi besar, kuat dan mandiri salah satunya melalui pembentukan kelompok-kelompok tani (Poktan) dan dari Poktan-Poktan tersebut digabungkan untuk lebih besar lagi yaitu dengan sebutan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), tidak berhenti sampai disitu, pemerintah mendorong Poktan dan Gapoktan menjadi Korporasi Petani yang kesemuanya itu dikenal dengan Kelembagaan Petani.
Dengan adanya Kelembagaan Petani program-program pemerintah khususnya pertanian lebih mudah masukan dan diarahkan dan dalam pembinaannya dilakukan oleh para Peyuluh Pertanian Lapangan.
Sejalan dengan hal tersebut Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Kelembagaan Berbasis Korporasi.
Kegiatan dilaksanakan mulai tanggal 19 sampai 21 Juli 2021 dilaksanakan di Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur, yang diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari pengurus-pengurus Poktan, Gapoktan dan Kelembagaan Ekonomi Petani KEP di Kecamatan Longkali Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur.
Dalam pelaksanaannya selain narasumber yang berasal dari Provinsi Kalimantan Timur yaitu Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Paser, Widyaiswara BPPSDMP Kalimantan Timur, BRI Cabang Paser, Praktisi setempat, BPPSDMP Kalimantan Timur mengadakan Kerjasama Ketenagaan Kediklatan dengan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang Kalimantan Selatan dalam hal ini adalah Yusuf Rijayanto, M.A. selaku Widyaiswara di BBPP Binuang dengan materi Melakukan Penyusunan dan Pemetaan Bisnis dan materi Memahami Pengembangan Bisnis.
Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), menganalogikan pembangunan pertanian maju, mandiri dan modern mengikuti pola Piramida Terbalik.
Petani dan penyuluh di posisi teratas, BUMN dan pihak swasta di tengah dan terbawah adalah pemerintah, yang menggambarkan kontribusi dan porsinya paling sedikit.
“Bukan lagi jamannya petani bekerja dan berusaha tani sendiri-sendiri, harus berjama’ah diawali dari kelompok-kelompok tani untuk membentuk korporasi petani. Saham korporasi dari petani,” ujar Mentan SYL.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi pada Bimbingan Teknis Kelembagaan Ekonomi Petani Lokasi IPDMIP, di Hotel Novotel Samator, 21 – 23 Juli 2022, mengatakan sesungguhnya usahatani itu menguntungkan.
Apabila tidak menguntungkan berarti ada yang salah pada saat pengolahan, on farm dan pemasaran hasil pertanian.
“Pertanian bukan hanya sebagai hobi tapi harus menghasilkan duit yang banyak, pertanian harus menguntungkan salahsatunya dengan membentuk KEP,” ungkap Dedi.
Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati dalam kesempatan terpisah mengatakan perlunya penguatan Kelompok Tani.
“Kelembagaan Petani sudah semestinya segera bergerak aktif agar menjadi Kelembagaan Petani yang Kuat dan Mandiri menjadi Kelembagaan Petani yang Maju-Mandiri dan Berdaya saing seperti yang diharapkan oleh Kementerian Pertanian,” ungkap Yulia.
Dalam penyampaian materi, Yusuf Rijayanto, M.A. mengajak para peserta para peserta dengan berdiskusi tentang keberadaan Poktan, Gapoktan dan KEP nya.
“Para pengurus Kelompok Tani beserta anggotanya harus menyusun rencana kegiatan yang menjadi dasar penetapan bisnis yang akan dilakukan oleh Kelembagaan Petani tersebut,” pungkas Yusuf.
Penulis: Yusuf Rijayanto, MA.
Publish: M.I.Karuniawan, S.Kom













