Kementan RI Launching “Smart Farming”, Amankan Pangan Nasional

banner 120x600

TAPIN-KALSEL, JKM | Songsong tahun 2022 Mentan, “GASPOLL” untuk mewujudkan transformasi system pertanian konvensional menuju pertanian milenial, Sekaligus jalankan misi ganda, amankan pangan dan “Rayu” kawula muda untuk mencintai pertanian.

Program Petani Milenial konkritnya, Para milenial dirayu dengan kegiatan nyata Smart Farming, dukungan fasilitas untuk menumbuhkan dan mengembangkan system agribisnis pertanian terpadu mulai (Up Stream Agri, On Stream Agri, Down Stream Agri) dan support system and Institution yang merupakan wujud nyata dukung  infrastruktur, sarana mulai hulu hingga hilir baik kredit (KUR),ansuransi agri (Jasindo), Sarana IT dan fasilitas agro 4.0 (otomatisasi irigasi, pemupukan, mekanisasi, pengaturan screen house otomatic) cukup dikontrol melalui smart phone.

Tentu “Rayuan” yang menjanjikan ini mampu memikat ribuan bahkan jutaan kalangan milenial yang awalnya “NO” bertani kini “YES”.  Tentu ini kondisi awal yang menggembirakan dan menjadi energy baru bagi kementerian pertanian dalam rangga wujudkan swasembada pangan nasional sehingga  memperkuat ketahanan nasional. 

kesuksesan untuk meyakinkan para kawula milenial untuk mencintai dunia pertanian, karena dengan pertanian dicintai, insyaallah pertanian tidak hanya menyenangkan tapi juga mampu menghidupi dan menyelamatkan proses suksesi bahkan revolusi transformasi agro dari pertanian “Kolodnial” menuju pertanian yang “Milenial”.

Dukungan smart farming diharapkan mampu meraih IP 400 agar pangan nasional makin mantap.  Ungkap Budiono, Widyaiswara yang menjadi peserta webinar smart farming dari BBPP Binuang pada Selasa, (18/01/22).

Bukti nyata lainnya adalah pertanian sudah 3 tahun terakhir tidak melakukan impor beras, dan mampu mengendalikan dan melakukan trobosan untuk mencari pengganti komoditas yang sementara masih impor baik gandum, singkong, jagung. Namun 2 tahun terakhir impor terkendali dengan makin digenjotnya budidaya dan penguatan manajemen agribisnisnya baik shorgum, sagu, porang, umbi-umbian dan aneka komoditas buah dan sayur yang semuanya telah dirintis dengan teknologi berbasis agro 4.0 salah satunya aplikasi smart phone mulai hulu hingga hilir.

Tak hanya sampai amankan pangan bahkan hingga mampu melipatgandakan pertumbuhan ekspor yang sejak awal pendemik Covid rata rata tumbuh dan berkembang diatas 15%, Hingga menjadi alternative lapangan kerja/usaha baru yang tak terduga bisa ditumbuhkembangkan di masa pandemik Covid-19 disaat sektor lainnya bertumbangan.

Presiden Joko Widodo mengatakan “ekspor pertanian pada semester I/2021 cukup membanggakan, karena mencapai Rp282,86 triliun atau naik 14,05% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp202,05 triliun. Peningkatan ekspor pertanian, kata Presiden, juga cukup memuaskan karena berdampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada Juni 2020 mencapai 99,60. Motivasi berikutnya makin derasnya dukungan kepada Kementan RI untuk merealisasikan Program Kostratani yaitu Pertanian Maju, Mandiri dan Modern.

Sebagai akibat masih besarnya angka kemiskinan menurut BPS mencapai 51% berada di perdesaan diantaranya 61% merupakan petani. Tentu kondisi ini menjadi tantangan bagi insan pertanian khususnya segenap jajaran Kementerian Pertanian RI.

Tantangan ini langsung terjawab sebagaimana telah disampaikan bapak menteri bahwa dengan membuka ragam jalur pemasaran (online, offline,ekspor dan substitusi komditas impor) akan meningktakan nilai tambah produk pertanian itu sendiri, memotivasi pelaku milenial untuk menggeluti sub sector agribisnis, meningkatkan kualitas dan daya saing dengan standar yang makin meningkat dan mampu berkompetisi pada berbagai segmen pasar dengan ragam kualitas dan jenis produk pertanian,” Tegas Jokowi.

Tentu ini selaras dengan  program program BPPSDMP yang terus disosialisasikan oleh Kepala Badan, Prof.Dedy Nursyamsi,M.Agr, dibeberapa kesempatan saat kunjungan daerah dan saat membuka rapat koordinasi persiapan workshop Smart Farming tanggal 12 Januari 2022.

beliau senantiasa menyampaikan bahwa kita harus mendorong untuk mempercepat terwujudnya “Petani Milenial” . Salah satunya adalah bagaimana para petani muda ini mampu menguasai teknologi smart farming dan smart market dengan membangun jejaring usaha (Jaringan Petani Nasional, JPN). Imbuh Prof Dedy Nursyamsi, Kepala BPPSDMP.  

Dalam rangka menjemput Bola Kementan yang telah digelindingkan diawal tahun 2022 dan Penyerahan DIPA 2022 diakhir tahun 2021, Kepala BBPP Binuang Dr.Yulia Asni Kurniawati,Msi memberikan motivasi agar para petani milenial mampu mengoptimalkan peluang usaha baik komoditas pangan, subsitusi impor dan peluang ekspor.

“Kementan RI telah diluncurkan dengan harapan bisa menjadikan  para kader petani milenial (KPM) dan Petani Andalan (KPA), membangun kolaborasi bisnis dan mampu meresonansi kawula muda yang masih memandang pertanian sebelah mata,”.  Jelasnya.

“Oleh karena itu melalui UPT BBPP binuang, program tersebut dikembangkan dalam kegiatan Bimbingan Teknis, Pelatihan Teknis, Vokasi,Manajemen dan Tematik dan bimbingan lanjutan,”Tambah Dr.Yulia  disela sela persiapan pelatihan Smart Farming dalam waktu dekat.

(Budiono/Irfan)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan