JKM.COM,MELAWI — Perjuangan Satuan Tugas (Satgas) dan relawan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, tidak hanya membutuhkan peralatan pemadaman. Dukungan logistik berupa makanan dan minuman juga menjadi kebutuhan penting bagi personel yang harus berjibaku di lapangan selama berjam-jam, bahkan hingga malam hari.
Kondisi tersebut mendapat perhatian Ketua Umum KPA Ciwanadri Kabupaten Melawi, Dea Kusumah Wardhana. Ia mengusulkan agar dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tersedia di Melawi dapat dilibatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi para Satgas dan relawan yang bertugas menangani karhutla.
Menurut Dea, asupan makanan bagi personel di lapangan tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele. Mereka membutuhkan energi yang cukup untuk menghadapi kondisi medan yang berat, panas, asap, serta aktivitas pemadaman yang menguras tenaga.
“Mereka berjuang dari pagi, siang, bahkan sampai malam. Api yang mereka hadapi bukan perkara kecil. Di tengah panas, asap dan keterbatasan air, mereka tetap bertahan. Jangan sampai urusan makan mereka justru terabaikan,” ujar Dea kepada media ini pada Selasa,(1/09/2026).
Ia berharap dapur MBG dapat menjadi bagian dari dukungan kemanusiaan ketika Melawi menghadapi kondisi darurat akibat karhutla. Bantuan makanan tersebut, kata dia, dapat diarahkan kepada personel Satgas, relawan, maupun masyarakat yang terlibat langsung dalam penanganan kebakaran.
Dea menegaskan, usulan tersebut bukan untuk mengambil alih pelaksanaan program MBG, melainkan mendorong adanya kolaborasi lintas pihak dalam situasi darurat.
“Kalau dapur MBG bisa membantu menyiapkan makanan untuk para pejuang karhutla, tentu ini akan sangat berarti. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya butuh dukungan agar bisa terus bertahan di lapangan,” katanya.
Menurut Dea, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh elemen. Pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, organisasi relawan, dunia usaha hingga masyarakat dinilai perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Sebab, penanganan karhutla tidak semata-mata berbicara mengenai ketersediaan air, selang maupun peralatan pemadam. Kondisi dan kebutuhan personel yang berada di garis depan juga harus menjadi perhatian.
“Jangan hanya melihat mereka ketika api sudah besar. Perhatikan juga kebutuhan mereka ketika sedang berjuang. Secangkir air, sebungkus nasi dan dukungan masyarakat mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mereka yang sedang berjibaku dengan api, itu adalah energi untuk terus bertahan,” ungkapnya.
KPA Ciwanadri Kabupaten Melawi mengajak seluruh pihak memberikan dukungan nyata kepada Satgas dan relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla.
Menurut Dea, di balik kepulan asap dan kobaran api, terdapat para petugas dan relawan yang mengorbankan tenaga, waktu, bahkan menghadapi risiko keselamatan demi melindungi masyarakat dan lingkungan.
“Jangan sampai mereka kuat menghadapi api, tetapi justru lemah karena kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi. Dukungan logistik adalah bagian dari perjuangan melawan karhutla,” pungkasnya.













