JKM.COM, MELAWI – Virus African Swine Fever (ASF) kembali menghantui para peternak babi di Kabupaten Melawi. Penyakit mematikan yang menyerang ternak babi tersebut dilaporkan telah menyebabkan kerugian hingga ratusan juta rupiah bagi peternak mandiri akibat tingginya angka kematian ternak dalam waktu yang singkat.
Sejumlah peternak mengaku kehilangan puluhan hingga ratusan ekor babi yang mati diduga akibat terpapar virus ASF. Kondisi tersebut tidak hanya menghancurkan usaha yang telah dibangun selama bertahun-tahun, tetapi juga berdampak langsung terhadap perekonomian keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor peternakan.
Salah seorang peternak mengungkapkan bahwa wabah ini membuat mereka berada dalam kondisi yang sangat sulit. Selain kehilangan ternak, mereka juga harus menanggung kerugian besar karena tidak ada pemasukan, sementara biaya pakan, perawatan kandang, serta modal usaha yang telah dikeluarkan tidak dapat kembali.
“Kami berharap pemerintah tidak tinggal diam. Kami membutuhkan pendampingan, pemeriksaan kesehatan ternak, serta solusi nyata agar wabah ini tidak semakin meluas,” ujar salah seorang peternak.
Para peternak mendesak Dinas yang membidangi peternakan di Kabupaten Melawi untuk segera turun ke lapangan melakukan pendataan, pemeriksaan, serta mengambil langkah cepat dalam pengendalian penyebaran virus ASF. Mereka juga berharap adanya edukasi mengenai biosekuriti, bantuan disinfektan, hingga kemungkinan pemberian bantuan atau kompensasi bagi peternak yang terdampak.
Wabah African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit virus yang menyerang babi domestik maupun babi hutan dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Meski demikian, ASF tidak menular kepada manusia dan tidak membahayakan kesehatan masyarakat.
Para peternak berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk mencegah penyebaran virus semakin luas. Penanganan yang cepat dinilai sangat penting agar kerugian peternak tidak terus bertambah dan populasi ternak babi di Kabupaten Melawi dapat kembali pulih.
Masyarakat, khususnya para peternak, juga diimbau untuk segera melaporkan apabila menemukan babi yang menunjukkan gejala sakit atau mati mendadak. Langkah tersebut dinilai penting sebagai upaya deteksi dini dan pengendalian penyebaran ASF sehingga dampak wabah dapat diminimalisir.













