Widyaiswara BPPSDMP Kementan RI, Ulas Integrated Farming Berbasis Cloosed Loop Demi Tingkatkan Kesejahteraan Petani

banner 120x600

BOGOR – JABAR, JKM | Kementerian Pertanian (Kementan) Terus berupaya untuk meningkatkan Kompetensi SDM Fasilitator, seperti Widyaiswara, Guru dan Dosen.

Hal ini dilakukan  Kementan dengan menyelenggarakan Training Of Trainer (ToT) dengan tema “Integrated Farming berbasis Closed Loop”

Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang serta Dosen dan Guru lingkup Badan Penyuluhan & Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan turut andil dalam kegiatan ToT ini secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting

Hal ini dilakukan agar para widyaiswara,Dosen & Guru lingkup BPPSDMP Kementan mampu mendampingi para petani yang masih berkembang, agar mereka dapat menerapkan sistem closed-loop pada kawasan pertanian yang terintegrasi.

Sistem ini diyakini akan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

“Sistem closed-loop di kawasan yang terintegrasi perlu diimplementasikan, terutama di tempat-tempat yang petaninya memang masih berkembang,” kata Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, Kamis (9/12/21).

Closed-loop adalah sistem agribisnis pertanian yang diintegrasikan dari level hulu hingga hilir dan seluruhnya dikelola melalui sistem digital. Hasil panen petani juga tidak sebatas dijual dalam bahan mentah, namun diolah menjadi barang jadi sehingga memberikan nilai tambah bagi petani.

Dedi megatakan, sistem tersebut akan menjadi jawaban bagi posisi daya tawar petani di Indonesia yang masih belum kuat. “Petani akan mendapatkan jaminan dari hasil panennya dan juga dapat dibeli dengan harga yang menggembirakan,” kata Dedi.

Sementara itu, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, sumber daya manusia pertanian sudah harus ditingkatkan dengan pendekatan sains dan teknologi digital. Tak hanya petani, para penyuluh saat ini juga wajib beradaptasi dengan tren pertanian modern agar mampu membawa petani yang lebih maju.

“Harus banyak tenaga pertanian yang lebih adaptif dengan inovasi yang kuat dan mampu mengimplementasikan teknologi saat ini. Tanpa itu, dia akan susah bersaing di pasar saat ini,” ujar Syahrul.

Syahrul menyebut, China dan India saat ini menjadi negara yang sangat maju dari sisi teknologi pertanian. Padahal, sumber daya alam masih kalah dari Indonesia. Karena itu, semestinya kekayaan alam yang dimiliki Indonesia harus dapat dimanfaatkan dengan tepat melalui pendekatan teknologi.

“Covid-19 telah menunjukkan kepada kita bahwa ada 2 juta orang yang terkena PHK di kota, dia kembali ke desa dan menjadi petani,” ucapnya.

(Mia/Irfan)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan